SEKILASBANTEN, COM, TANGERANG SELATAN – Mediasi warga Accola Park dengan PT SCG Readymix Indonesia yang ke-6 kalinya menemui jalan buntu. Pada mediasi itu, warga tetap meminta Batching Plant penyebab polusi udara tetap dipindahkan. Pasalnya, surat jawaban dari PT SCG Readymix Indonesia tak bisa memenuhi permintaan warga.

“Pihak kami tetap berkomitmen bahwa keberadan batching plant tidak akan menimbulkan hal yang negatif, terutama dari sisi lingkungan,” terang General Manager Bisnis Unit West-1 PT SCG Readymix Indonesia, Asep Isa Sobarna, kepada wartawan seusai mediasi keenam dengan warga. Bertempat di kantor pemasaran perumahan Accola Park, Kelurahan Buaran, Tangerang Selatan, Jumat (12/4/2019).

Asep menegaskan, apa yang sudah disampaikan kepada warga adalah suatu hal yang sifatnya merespon, dan hasil mediasi ke-6 akan di sampaikan ke pihak management. Jawabanya akan disampaikan ke warga paling lambat selasa (6/4).

“Terlepas itu diterima atau tidak oleh warga perumahan accola, ini menjadi suatu findback positif juga bagi kami,” ujarnya.

Disinggung terkait masalah perpanjangan izin operasi, Asep mengaku prosesnya terbentur daripada izin warga sekitar, dan langkah ini merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan izin tersebut.

“Untuk izin sebenarnya sudah kita miliki, namun perlu dilakukan update (pembaruan),” pungkasnya.

Sementara warga Accola Park, Doni menyampaikan, bahwa sepengetahuan warga, itu batching plant milik Jayamix yang lama tak beroperasi. Pada bulan Agustus 2019, kontruksi batching plant dipindah atau dibangun kembali dan letaknya 20 meter dengan batas perumahan Accola Park.

“Agustus 2018, rumah warga ada yang retak akibat paku bumi pembangunan kontruksi batching plant dan tidak ada izin lingkungan ke warga perumahan Accola Park yang terkena dampaknya,” ungkapnya.

Doni menuturkan, pada bulan Oktober 2018, warga melayangkan surat keberatan beroperasinya batching plant karena polusi udara akibat debu produksi beton curah yang menyelimuti perumahan Accola Park.

“Sejak kami surati dari Oktober 2018, sudah enam kali mediasi. Setiap setelah mediasi debu berkurang, tapi beberapa minggu kemudian terulang lagi,” keluhnya.

Menurut Doni, pada mediasi kelima pihak warga memberikan solusi atas permasalahan ini, para warga sepakat minta dipindahkannya silo kontruksi batching plant agak jauh dari batas perumahan Accola Park. Tujuannya agar polusi udara berkurang, tapi ditolak pihak PT SCG Readymix Indonesia.

“Dari mediasi pertama, pihak perusahaan berjanji akan menerapkan produksi ramah lingkungan, tapi nyatanya dari Oktober 2018 masalah ini berlarut-larut sampai sekarang,” sebutnya.

Doni menjelaskan, permintaan warga sudah ditolak, maka warga sepakat akan mengadukan hal ini ke Walikota Tangsel dan melakukan aksi penolakan dengan menggandeng aktivis lingkungan.

“Bagi kami kesehatan keluarga harga mati, dan hasil musyawarah warga akan menyurati Walikota Tangsel dan Menteri Lingkungan Hidup,” tukasnya.

Dikatakannya, menjawab hasil mediasi kelima, PT PT SCG Readymix Indonesia akan melakukan perbaikan dalam waktu dua minggu sejak diterbitkan pada tanggal 9 April 2019. Sedangkan, waktu terus berjalan mana mungkin itu bisa terlaksana sepenuhnya. Hal ini membuat mosi tidak percaya warga.

“Ketika waktu yang dijanjikan dua minggu, pada saat mediasi keenam sudah berjalan tiga hari, artinya tinggal waktu 11 hari. Secara engeneering sepertinya tidak mungkin tercapai dengan pekerjaan-pekerjaan fisik yang besar,” tuturnya.

Belum surat perintah kerja (SPK) dengan kontraktor dengan pengadaan-pengadaan alat dan material lainnya, kata Doni, yang semuanya butuh waktu. Di sisi lain warga menilai, bahwa biaya usaha perbaikan tersebut, dinilai lebih besar daripada usaha untuk memindahkan Silo Bacthing plant.

“Jadi janji-janji yang diberikan terkesan hanya mengundur-undur waktu saja, dan tidak mengindahkan permintaan warga seperti mediasi pertama dan seterusnya. Padahal kita para warga yang terkena dampak debu, hal ini tidak bisa ditolelir lagi,” tandasnya. (GN/Angg).