Rizal Bawazier : Longsor Cipeucang, Pengelolaan Sampah di Tangsel Harus Dengan Teknologi Canggih

SEKILASBANTEN.COM, TANGERANG SELATAN – Gunungan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Kecamatan Serpong, Tangsel, longsor hingga nyaris menutupi Kali Cisadane. Dari foto yang beredar luas, tumpukan sampah menutup sebagian besar lebar kali Cisadane.

Kejadian tersebut, tentu saja mengundang keprihatinan sejumlah tokoh yang konsen terhadap kondisi Tangsel dimana fokus pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19 belum usai, kini datang ujian baru yakni penanganan Cipeucang yang harus juga mendapatkan perhatian serius.

Atas kejadian tersebut, Aktivis dari Yayasan Peduli Lingkungan Hidup (YAPELH), Ade Yunus pun telah mengatakan sampah longsor yang mengotori sungai Cisadane merupakan petaka sampah yang diakibatkan kelalaian dan salah pengelolaan sampah dan dua tahun yang lalu sudah pernah diminta agar segera ditutup karena kondisinya sangat mengkhawatirkan.

Terpisah, Rizal Bawazier, Calon Walikota Tangerang Selatan saat diminta konfirmasinya mengenai musibah longsornya TPA Cipeucang mengatakan pengaturan sampah itu HARUS dengan teknologi canggih.

“tidak bisa tidak, jangan berpikir panjang mengenai biayanya yang tinggi, apalagi daerah Kota Tangerang Selatan bukan seperti Kabupaten Tangerang atau Kabupaten Bogor yang masih mempunyai lahan-lahan tanah yang luas,” kata Rizal kepada wartawan, Sabtu (23/05/2020).

Lanjut Rizal mencontohkan, sampah dikumpulkan oleh petugas kebersihan, kita kasih tunjangan yang lebih untuk petugas kebersihan supaya aktif dan cepat pungut sampah-sampah, setiap malam HARUS angkut sampah, lalu sampah diangkut ke sebuah kawasan. Kawasan tersebut berbentuk bangunan-bangunan dengan cerobong asap seperti pabrik pembakaran sampah, semuanya dibakar dalam satu bangunan dengan suhu 1.000 derajat celcius atau lebih selama 7 hari dalam seminggu atau bisa dikatakan terus dilakukan tanpa henti,” paparnya

“Sampah yang dibakar berubah menjadi panas dan energi terbarukan yang menghidupkan, berupa listrik atau batubara, tinggal pilih teknologinya mau jadi apa hasil akhirnya. Hasil uap pembakaran sampah akan disaring kembali juga dengan teknologi canggih dan akan dikeluarkan sebagai udara bersih yang bisa dihirup oleh masyarakat sekitar,” katanya

“Alternatif lain bisa dengan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dengan teknologi canggih, salah satu contohnya dengan Refuse Derived Fuel (tolak bahan bakar turunan) yang saya rasa biayanya tidak akan lebih dari Rp 100 milyar yaa, tidak harus sampai trilyunan. Asal cepat dilakukan dan niat dijalankan pasti tidak sulit. Kita juga bisa kerjasama dengan Pemda Kabupaten Tangerang atau Kabupaten Bogor apabila kurang lahannya, saya yakin pada mau demi kepentingan bersama, kan ada hasilnya berupa listrik atau batubara,” jelasnya

“Jangan berpikir terlalu lama kalau urusannya sampah dan juga banjir yaa karena keduanya masalah lingkungan atau alam yang tidak bisa dihindarkan. Penumpukan sampah akan menimbulkan masalah sosial di masyarakat karena bau dari penumpukan sampah tersebut,” tutupnya. (aji)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This